SUANGGI SANG PEMAKAN ORGAN BAYI PART 2
*SUANGGI *
- Sang Pemakan Organ Bayi -
(KILAS BALIK)
Bulan purnama bersinar terang di ujung dari salah satu pulau diantara ratusan pulau di Maluku di akhir 70an.
Debur ombak pecah bersatu dengan pasir putih disaksikan batu-batu karang disekitarnya.
Membawa irama keheningan malam yang mencekam.
Di sepanjang bibir pantai, ribuan pohon kelapa berdiri tegak. Cahaya purnama membuat mereka bak barisan raksasa hitam yang sedang menunggu dan mengawasi wilayahnya.
Tapi ternyata bukan hanya mereka.
Sesosok tubuh diantara deretan pepohonan kelapa tersebut juga terlihat mengawasi sekitarnya.
Memastikan tak ada siapapun disitu selain dirinya.
Jika siang hari hanya ada satu atau dua orang yang melewati ujung dari pulau tersebut. Itupun tak setiap hari.
Apalagi jika malam, mustahil membayangkan ada yang berada disitu. Rumah warga yang terdekatpun berjarak lima jam perjalanan ke tempatnya berdiri.
Tapi sosok tersebut tak mau ambil resiko.
Dia tetap mengawasi untuk beberapa lama.
Saat dia yakin bahwa situasi benar-benar aman, perlahan dia berjalan ke pantai.
Melangkah mantap untuk mengisi satu dari sekian ritual yang harus dijalaninya.
Di pantai, dia mendongak lama menatap purnama. Dari mulutnya keluar rapalan mantera dari gurunya.
Sedikit demi sedikit, kekuatan besar dalam dirinya yang selama ini kerap tersembunyi, menyeruak keluar.
Akhirnya menjadi kekuatan hitam yang sepenuhnya menguasai dirinya.
Dia menanggalkan seluruh pakaiannya.
Tanpa sehelai benangpun, dia mulai menari
dibawah terang purnama. Gerakannya mengikuti irama dari kekuatan hitam tersebut.
Bunyi debur ombak di batu karang semakin keras. Murka.
Seakan tak sudi keindahan sekitarnya dicemari oleh satu ritual laknat.
Di pantai, sosok tersebut terus menari. Berjam-jam lamanya. Tak terlihat sedikitpun rasa lelah pada dirinya. Yang ada semakin lama dia semakin enerjik. Bertambah kuat. Gerakannya semakin cepat. Bahkan kadang melayang tak menyentuh pasir dibawahnya.
Saat purnama mulai redup, dia menghentikan ritualnya dan mengawasi sekitarnya. Masih aman.
Terasa tubuhnya jauh lebih enteng dan lebih kuat. Warna matanya semakin kemerahan.
Sesaat dia teringat pada salah satu kampung disekitar. Seorang wanita di kampung tersebut belum genap seminggu melahirkan.
Dia tersenyum, membayangkan betapa segar dan nikmatnya sang bayi. Dan dahagapun mulai terasa.
Selesai mengenakan kembali pakaiannya, dia bergerak. Begitu cepatnya sehingga lebih tepatnya disebut melayang. Dia sadar harus bergegas.
Harus, sebelum malam berakhir.
Menuju kampung yang dibayangkan.
***
Nina bangkit dengan enggan. Rasa ngantuknya masih sangat terasa. Tetap saja jiwa seorang ibu memaksanya untuk bangun mengurus bayinya yang menangis. Anehnya sang bayi menolak saat hendak disusui. Alih-alih menetek, yang ada dia seperti berontak.
Ninapun berdiri menggendong sambil bersenandung kecil. Berharap sang bayi senang dan berhenti menangis.
Tapi lengkingan sang bayi semakin menjadi.
Nina melirik ke suaminya yang juga ikut terbangun.
"ABANG EE.. CO SE LIA INI ANAK KANAPA LAI NII..?"
(Bang.. coba kamu lihat ini anak kenapa lagi, nih..?)
Suaminya berjalan ke lemari kecil dipojok kamar mereka.
"MANGKALI MASO ANGIN. BAWA DIA KAMARI BIAR BETA LAMBOR DIA DENG MINYA KAYU PUTIH"
(Mungkin masuk angin. Bawa dia kesini biar kubalur dia dengan minyak kayu putih).
Pintu kamar terkuak pelan. Menampilkan bocah kecil yg mengucak matanya.
"BETA PUNG ADE KANAPA LAI TUH, MA?
BIKING HAL PAR TENGAH MALAM BAGINI. DIA LAPAR KA APA TU."
(Adikku kenapa lagi tuh, bu..?
Bikin ulah di tengah malam begini. Mungkin dia lapar, tuh..)
Nina tersenyum.
"ADE SENG APA-APA. SKARANG BANTU MAMA.
PI KA BLAKANG AMBEL KASBI DENG PARUTANG SEKALIAN EE. MAMA MAU KAS BAE SE PUNG ADE DO."
(Adik gak apa-apa. Sekarang bantu ibu. Pergi ke belakang ambil singkong sekalian dengan parut, ya. Ibu mau mengobati adikmu dulu.)
Bocah itu menghilang sejenak dan kembali dengan apa yang diminta ibunya.
Nina meletakkan bayinya dikasur dan tergopoh2 memarut sebatang singkong. Berjaga-jaga bila minyak kayu putih tidak berdampak jika ternyata bukan masuk angin.
Dia berjingkat ke samping suaminya yang telah selesai membalurkan minyak kayu putih ke sekujur tubuh sang bayi.
"ABANG EE. BETA RASA DIA BUKAN MASO ANGIN TAPI SARAMPA, KA APA. MASAK MANANGIS SAMPE KAYAK ORANG KATANGISANG BAGITU."
(Abang. Kurasa dia bukan masuk angin tapi tampek, mungkin. Masak tangisannya seperti orang kesurupan begitu.)
Suaminya mendengus.
Sang bayi masih menangis. Nina membuka baju sang bayi dan menggosok dengan parutan singkong. Berharap jika itu tampek, maka akan mengurangi sakitnya.
Tetap saja tangis sang bayi semakin kencang.
Lengkingannya semakin memilukan. Tapi perlahan tangisannya menjadi lirih.
Dan tak lama kemudian berhenti. Sunyi.
Bukan hanya teriakannya, tapi sekujur tubuhnya juga diam.
Nina mulai panik. Dia menangis sambil mengguncang-guncangkan tubuh sang bayi.
Sang bayi hanya diam.
Dingin.
Suaminya jatuh terduduk lunglai dengan wajah terpana. Tak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya.
Nina menjerit sekencang-kencangnya.
Jeritan merana hancurnya hati seorang ibu.
Diluar, sesosok tubuh pelan-pelan beringsut pergi dari samping jendela rumah mereka.
Tampak wajahnya tersenyum menyeringai.
Dahaganya telah terpuaskan menandakan ritualnya telah sempurna.
Sekejap dia menghilang dibalik gelapnya rimbun pepohonan.
Tak lama, dari surau terdengar lantunan tarkhim.
Pertanda subuh hampir tiba.
Posting Komentar untuk "SUANGGI SANG PEMAKAN ORGAN BAYI PART 2"