SUANGGI SANG PEMAKAN ORGAN BAYI PART 3
*SUANGGI *
- Sang Pemakan Organ Bayi -
Suasana muram di sebuah rumah berdinding jati yang dicat kapur.
Deretan bangku di depannya terisi beberapa orang yang gelisah. Ada kemarahan dan ketakutan di wajah-wajah mereka.
Di dalam rumah, suara isak tangis Nina sedari malam masih terdengar.
Seakan ingin menghabiskan deritanya lewat ratapan tersebut.
Para kerabat berusaha menghiburnya meski mereka paham akan sia-sia.
Setidaknya mereka ingin menunjukkan bahwa mereka ada buatnya disaat duka seperti sekarang ini.
Tepatnya, disaat mengerikan seperti ini.
Semua duduk di ruang tamu beralaskan tikar pandan. Ada tiga kamar dimana hanya kamar paling depan yang berpintu. Sementara dua kamar lainnya dan pemisah dengan dapur hanya dibatasi dengan kain yang dicantol di atasnya.
Dari dapur muncul haji Ismail, sang tetua kampung. Masih terlihat kekar diusianya yang sudah memasuki 70an.
Beliau melihat sekeliling. Sejenak menghela nafas dengan masygul dan kasihan saat tatapannya tertuju ke Nina.
"Mana Beng..?" beliau bertanya pada yang lain.
Seorang gadis remaja yang sedari tadi ikut terisak memeluk Nina, bergegas menuju kamar depan. Didalam tampak Beng duduk bersandar menatap langit-langit.
Pandangan matanya kosong.
Dia tidak seperti istrinya Nina yg mampu mengekspresikan kesedihan dengan tangisan.
Kehancuran yang dia rasakan membuat dia tak bisa berkata-kata. Hampa.
Gadis remaja tadi mendekat dan memegang tangan kakaknya. Dia paham kakaknya sangat terpukul.
"ABANG. BAPA HAJI MAIL PANGGIL. KALUAR SADIKI LA PI LIA ANTUA, EE.
ABANG DARI ABIS BAKUBUR SAMPE SKARANG TARUS DALAM KAMAR. SENG BAE, BANG"
("Abang. Dipanggil pak haji Ismail. Keluar sebentar dan temui beliau, ya.
Abang dari selesai ngubur sampai sekarang terus di dalam kamar. Tidak baik, bang")
Beng menatap adiknya.
"ANTUA DIMANA?"
("Beliau dimana?")
"DI KINTAL BLAKANG"
("Di halaman belakang")
Beng keluar kamar. Sekilas melirik ke arah istrinya yang masih meratap. Hati Beng serasa diiris. Terluka sangat dalam.
Dia kedapur, mengambil gelas yang berisi air dan meneguk isinya.
Pintu belakang dapur yang terbuka menampakkan Haji Ismail yang sedang berada di halaman belakang.
Beliau memanggilnya untuk bergabung bersamanya dan beberapa lainnya.
Ada sekitar lima orang seusia beliau dan dua orang yang usianya lebih muda. Mungkin tidak jauh dari usia Beng.
"DUDU LA ANGKA SE PUNG KAKI TARUH DI ATAS"
("Duduk dan angkat kakimu taruh di atas").
Beng menurut. Dia duduk di salah satu bangku yang kosong dan mengangkat kakinya bersila.
Sama seperti yang lain.
Mengangkat kaki agar tidak tersentuh tanah dilakukan jika topik pembicaraan hanya satu,
yaitu suanggi. Pamali.
Haji Ismail menoleh pada haji Rahmat, imam surau di kampung itu. Umurnya setahun atau dua tahun lebih tua dari pak haji ismail. Memberi kesempatan pada haji Rahmat untuk bicara.
Haji Rahmat menatap Beng dengan penuh simpati dan prihatin.
"SEBELUMNYA BAPA MINTA MAAF KALO BAPA BICARA INI MUNGKIN SENG KANA DI SE PUNG HATI. DIMUKA SANA BANYAK YANG STORI INI STORI ITU. TAPI BAPA YANG KAS MANDI ALMARHUM.
BAPA LIA AKANG GANJIL BANYA, SENG WAJAR.
AKANG MODEL.."
("Sebelumnya bapak minta maaf jika pembicaraan bapak ini tidak berkenan di hatimu.
Di depan sana banyak yang bicara ini bicara itu. Tapi bapaklah yang memandikan almarhum.
Bapak melihat banyak keganjilan, tidak wajar.
Sepertinya..')
"SUANGGI. BETA SU TAU BAPA."
("Suanggi. Saya sudah tau, pak.")
Beng memotong kalimat haji Rahmat yang tergantung. Ada kemarahan besar dalam nada suaranya.
"DENG DI KAMPUNG NI CUMA SATU YANG SUANGGI. BETA MO BIKING BIAR DIA MANGAKU DENG DIA PUNG KALAKUANG."
("Dan di kampung ini cuma ada seseorang yang suanggi. Akan kubuat agar dia mengakui perbuatannya.")
Haji Rahmat menatap Beng dalam-dalam.
"NAH INI YANG BAPA MO BICARA.
KALO YANG OSE MAKSUD ITU MAMA SARTI, MEMANG SAMUA DI KAMPONG SINI SU CURIGA KALO ANTUA ITU SUANGGI. TAPI BAPA BISA JAMIN KALO ITU BUKAN ANTUA PUNG KALAKUANG. BAPA YAKIN PASKALI."
("Nah ini yang mau bapak bicarakan.
Jika yang kau maksud itu ibu Sarti, memang semua di kampung telah curiga kalau beliau itu suanggi. Tapi bapak bisa jamin bahwa itu bukan perbuatan beliau. Bapak yakin sekali.")
Semua menatap tajam ke haji Rahmat. Seperti meminta jawaban.
Yang ditatap menoleh ke haji Ismail. Meminta izin.
Haji Ismail mengangguk.
Haji Rahmat menarik nafas dalam-dalam.
"BETA MO CARITA SATU BARANG PAR KAMONG.
TAPI SEBELUMNYA BETA MINTA KAMONG SUMPA SENG CARITA AKANG LAI PAR YANG LAIN. SAMPE KAMONG PUNG BINI JUA TAR BOLE TAU. MAU..?"
("Aku akan menceritakan sesuatu pada kalian. Tapi sebelumnya kuminta kalian bersumpah tak akan menceritakan lagi pada yang lai. Bahkan istri kalianpun tak boleh tau. Mau..?")
Yang lain saling menatap. Sejenak lamanya.
Akhirnya semua setuju. Merekapun bersumpah.
Haji Rahmat melanjutkan.
"KAMONG INGA WAKTU DOLO KARIM PUNG ANA SAKI TARUS BIKING APA SA SENG BAE-BAE?
MAMA SARTI DATANG BIKING AIR DENG LANGSUNG BAE. ITU AKANG SAMUA MULAI WAKTU PAGI ITU.
WAKTU ITU KARIM PUNG BINI DENG ZIAD PUNG BINI ADA KAS BAJAMUR DONG PUNG ANA.
MAMA SARTI LEWAT LA LIA DORANG. PAS KARIM PUNG BINI LIA MAMA SARTI, DIA LANGSUNG LARI KAS MASO DIA PUNG ANA KA DALAM RUMAH.
MAMA SARTI TERSINGGUNG. ANTUA LIA DIA PUNG ANAK DENG MATA TAJAM. ITU YANG BIKING ANA SAKI. DENG CUMA ANTUA YANG BISA KAS BAROBAT DARI ANTUA PUNG MATA PANAS TU.
NAAHH.. SEMENTARA ZIAD PUNG BINI MALAH BARSUKA PANGGIL MAMA SARTI. DONG DUA BACARITA TATAWA-TATAWA DENG MAMA SARTI GENDONG DIA PUNG BAYI. MAMA SARTI SANANG.
DONG SENG TAU KALO HAJI ISMAIL ADA LUR DARI JAO.
ZIAD PUNG BINI NIH MEMANG NAU-NAU. ORANG SAMUA ADA LARI DARI MAMA SARTI TAPI DIA SENG.
YANG LUAR BIASA TU, DIA PUNG KALAKUANG NAU-NAU ITU YANG BIKING DIA PUNG BAYI SLAMAT."
("Kalian ingat saat dulu anaknya Karim sakit dan apapun yang dilakukan tetap tidak sembuh?
Bu Sarti datang membuatkan air dan langsung sembuh. Itu semua berawal dari paginya.
Pagi itu istri Karim dan istrinya Ziad sedang menjemur bayi mereka. Bu Sarti lewat dan melihat mereka. Saat istri Karim melihat Bu Sarti, dia tergopoh-gopoh membawa bayinya masuk kedalam rumah. Bu Sarti tersinggung.
Beliau menatap tajam. Itu yang membuatnya sakit nantinya. Dan hanya Bu Sarti yang bisa mengobati sakit dari pengaruh tatapan panas matanya tersebut.
Naahh.. sementara istri Ziad malah senang dan memanggil Bu Sarti. Mereka berdua bercengkrama sambil Bu Sarti menggendong bayinya. Bu Sarti terlihat bahagia.
Mereka tak sadar bahwa haji Ismail sedang memperhatikan dari jauh.
Istrinya Ziad nih memang naif. Saat semua orang menghindari Bu Sarti, dia malah sebaliknya.
Yang luar biasa, justru sikap naifnya itu yang menyelamatkan bayinya.")
Haji Rahmat berhenti sejenak. Mengambil gelas teh didepannya. Selesai seteguk, beliau meneruskan ceritanya.
"PAS MAGRIB KARIM PUNG ANA SAKI. BATAREA TAR STOP-STOP. DONG SU BARIBOT BIKING SAGALA MACAM, ANA SENG BAE TETAP PANAS.
HAJI MAIL LANGSUNG KA MAMA SARTI PUNG RUMAH. ANTUA RAI-RAI LA GARTAK SA PAR MAMA SARTI.
'KALO SE MASIH ADA HATI MANUSIA CAPAT PI KAS BAE ITU ANA.
AKHIRNYA KAYA YG KATONG TAU KARIM PUNG ANA LANGSUNG BAE.
AKANG PUNG MALAM BETA DENG HAJI MAIL BAKUJAGA DI MAMA SARTI PUNG RUMAH.
KATONG TAKU ADA KEJADIAN BAGITU LAI.
BETA JAGA DI SAMPING DEKAT PINTU MUKA, HAJI MAIL DI SAMPING DEKAT PINTU BLAKANG. KATONG TUNGGU LAMA SAMPE MANGANTO.
AKHIRNYA BETA LIA HAJI MAIL KAS KODE PAR DATANG.
BETA KA SANA LIA MAMA SARTI ADA KALUAR DARI PINTU BLAKANG. KATONG IKO ANTUA PLAN-PLAN.
RUPANYA ANTUA KA ZIAD PUNG RUMAH.
SAMPE DISANA RUPANYA ADA BARANG LAIN BASANDAR DI ZIAD PUNG JANDELA RUMAH.
MAMA SARTI LANGSUNG KAYAK ORANG MO MANGAMO. ANTUA ANGKA ANTUA PUNG TANGAN KAYA ORANG MO CAKAR-CAKAR.
BIAR PLAN TAPI KATONG MASI DENGAR ANTUA PUNG SUARA 'PI DARI SINI ATAU OC KA BETA YANG MATI!
OSE PUNG ILMU ADA BETA LAI PUNG ILMU ADA.
CARI ANA YANG LAIN. JANG YANG INI'
BARANG ITU MANGAMO. DIA MANGGARONG MO SERANG MAMA SARTI.
BETA DENG HAJI ISMAIL LANGSUNG LONCAT KA DORANG. BARANG ITU KAGET DENG PI KABUR. MAMA SARTI JUA KAGET. ANTUA MO MANANGIS TAPI BETA SURUH ANTUA SUPAYA DIAM.
LA KATONG BAWA ANTUA PULANG.
JANG SAMPE ORANG-ORANG TAU LA AKANG KAMPUNG JADI RAME"
("Pas magrib bayi si Karim langsung demam. Teriak tiada henti. Mereka heboh dan melakukan segala upaya, tapi bayinya tetap panas.
Haji Ismail segera ke rumah Bu Sarti. Beliau sekedar menebak saja dan menggertak 'jika masih ada nurani di hatimu, cepat sembuhkan bayi itu.'
Akhirnya seperti yang kita tahu anaknya si Karim langsung sembuh.
Malamnya aku dan haji Ismail berjaga-jaga di rumah Bu Sarti.
Kami takut ada kejadian seperti itu lagi. Aku berjaga di samping depan, dan pak haji Ismail disamping belakang. Kami menunggu sangat lama sampai mengantuk. Akhirnya kulihat haji Ismail memberikan isyarat agar mendekat. Aku kesana dan melihat Bu Sarti keluar lewat pintu belakang. Kami mengikuti beliau diam-diam.
Rupanya
beliau menuju rumah Ziad.
Tiba disana ternyata ada sosok lain yang sedang bersandar di jendela rumah Ziad.
Bu Sarti terlihat seperti sangat marah. Beliau mengacungkan tangannya seakan hendak mencakar.
Meski sayup, kami masih mendengar suaranya, 'Pergi dari sini atau diantara kita ada yang mati. Kamu punya ilmu, begitupun aku.
Cari bayi yang lain. Jangan yang ini!'
Sosok itu marah. Dia menggeram hendak menyerang Bu Sarti.
Aku dan haji Ismail langsung melompat ke arah mereka. Sosok itu kaget dan segera kabur.
Bu Sarti juga kaget. Beliau mau menangis tapi kusuruh diam.
Lalu kami membawanya pulang.
Sebelum orang-orang tersadar dan membuat kampung menjadi gempar")
Haji Rahmat menoleh ke arah haji Ismail.
"MANGKALI PAK HAJI ISMAIL YANG MO KAS LANJUT AKANG"
("Mungkin pak haji Ismail yang akan melanjutkan ceritanya")
Haji Ismail mengangguk.
"SAMPE DI ANTUA PUNG RUMAH KATONG LANGSUNG TANYA.
ANTUA AKHIRNYA MANGAKU KALO ANTUA TU SUANGGI.
TAPI ITU BUKAN ANTUA PUNG MAU. ANTUA JADI BAGITU KARNA ANTUA PUNG ORANG-ORANG TUA. MAKANYA ANTUA TAR MO KAWENG KARNA SENG MAU NANTI PUNG ANA KAYA ANTUA.
DI ANTUA PUNG KAMPUNG YANG LAMA, DORANG SENG TARIMA ANTUA PUNG KELUARGA. TAR ADA YANG MO DEKAT DORANG. AKHIRNYA PAS ANTUA PUNG ORANGTUA DUA-DUA MANINGGAL, ANTUA KALUAR DARI KAMPUNG LA PINDAH BALI TANAH DISINI.
TAPI ORANG-ORANG SINI JUA MULAI CURIGA KARNA TIAP BULANG TRANG ANTUA TAR PERNAH KLIATAN.
AKHIRNYA ORANG-ORANG KAMPUNG SU TAR MO DEKAT ANTUA.
ANTUA JUA SU BARASA. DENG ANTUA SU NIAT MO PINDAH. SAMPE PAS TADI PAGI PAS ANTUA GENDONG ZIAD PUNG ANA, ANTUA BROBAH PIKIRAN.
ANTUA SANANG PASKALI.
BALOM PERNAH SEUMUR ANTUA PUNG HIDUP ADA YANG DUDU BACARITA TATAWA SAMA-SAMA.
SAMPE KAS ANTUA GENDONG BAYI.
RASA SANANG ITU SENG ILANG-ILANG SAMPE ANTUA MANANGIS.
ANTUA LANGSUNG SAMPE SUMPAH MO AKANG JAGA ZIAD PUNG ANA DENG BINI. ANTUA SIAP MATI PAR DORANG.
PAS ABIS KAS BAROBAT KARIM PUNG ANA, ANTUA PULANG MO BANTING BADAN DI KOI. PERTAMA BIASA-BIASA SA. TAPI LAMA-LAMA ANTUA KAYA CIOM BOBOU YANG SU SENG ANEH LAI. BOBOU YANG SAMA DENG ANTUA.
ANTUA LANGSUNG INGAT ZIAD PUNG ANA. ANTUA TAKOTANG STENGA MATI JANG SAMPE ZIAD PUNG ANA DALAM BAHAYA DENG ANTUA TAR SAMPAT.
BATUL.
ADA SUANGGI LAIN YANG MO KAS CILAKA ZIAD PUNG ANA. ANTUA MO BAKALAI DENG ANTUA PUNG MODEL PAR JAGA ZIAD PUNG ANA. DAN ITU KATONG LIA DENG MATA KAPALA SANDIRI"
("Sesampainya di rumah beliau, kamipun menginterogasi. Beliau akhirnya mengaku bahwa beliau adalah suanggi.
Tapi itu bukan kemauan beliau. Beliau begitu karena mewarisi kutukan dari leluhurnya. Itu sebabnya beliau tidak mau menikah karena takut anaknya nanti seperti beliau.
Di kampung beliau yang lama, warga kampung tidak menerima beliau sekeluarga.
Tak ada yang mau mendekati mereka. Hingga akhirnya saat kedua orang tuanya meninggal, beliau keluar dari kampung tersebut dan membeli tanah disini.
Tapi masyarakat disini mulai curiga karena setiap bulan purnama beliau tidak pernah kelihatan. Akhirnya warga disini juga tidak mau mendekati beliau.
Beliau sudah merasakan itu. Dan berniat untuk pindah. Sampai tadi pagi saat beliau menggendong anaknya Ziad, beliau langsung berubah pikiran.
Beliau bahagia.
Belum pernah seumur hidup beliau, ada yang duduk bercengkrama bersama.
Bahkan memberikan bayinya untuk beliau gendong.
Bahagia itu tak hilang-hilang sampai membuat beliau menangis.
Beliau saat itu juga langsung bersumpah akan menjaga anak dan istri Ziad. Beliau siap mati untuk mereka.
Saat selesai mengobati bayinya Karim, beliau pulang untuk rebahan di kasur. Awalnya biasa saja. Tapi lama kelamaan beliau mencium bau yang sudah tak asing lagi. Bau yang sama dengan beliau.
Beliau seketika teringat bayinya Ziad. Beliau cemas setengah mati takut bayi itu dalam bahaya dan beliau terlambat menyelamatkan.
Dan benar.
Ada suanggi lain yang hendak mencelakakan bayinya Ziad. Beliau tak ragu bertempur dengan sesama jenisnya demi melindungi bayinya Ziad.
Dan itu kami saksikan dengan mata kepala sendiri.")
Posting Komentar untuk "SUANGGI SANG PEMAKAN ORGAN BAYI PART 3"