SUANGGI SANG PEMAKAN ORGAN BAYI PART 1
* SUANGGI *
- Sang pemakan Organ Bayi -
Pertengahan tahun 80an.
Hujan yg deras semenjak selesai isya, membuat banyak remaja masjid di salah satu kampung di daerah Maluku, malas pulang dan memilih bercengkrama di masjid.
Hingga hampir jam 11 malam.
Tepat jam 11 hujan mulai reda berganti gerimis kecil.
Para gadis mulai merengek minta diantar pulang.
Sesepuh masjid yg memang tugasnya mengawasi mereka mulai membagi kelompok pria menjadi tiga kelompok dgn masing-masing 4 anggota.
Tugasnya mengantar para gadis secara bergantian.
Semua berjalan lancar hingga tinggal seorang gadis yg rumahnya di ujung kampung.
Beberapa dari mereka sudah mulai merasa tak enak. Teringat beberapa peristiwa yg aneh disekitar situ.
Tapi demi solidaritas sesama kawan terpaksa mereka patuh pada tugas yg diberikan.
Rumah si gadis melewati dua perempatan kampung.
Perempatan pertama lumayan terang dgn cahaya dari rumah sekitar.
Perempatan kedua yg agak gelap.
Karena ada sekolah dasar yg tak diberi penerangan, dan hanya sebuah rumah yg cahayanya kecil remang-remang di terasnya.
Di perempatan kedua itulah ditengah gerimis malam, samar-samar mereka mendengar suara bayi menangis seperti menahan sakit. Lama kelamaan semakin kencang suara tangis bayi tersebut. Memilukan.
Feeling rombongan tersebut ada yg tak beres, mereka mempercepat langkah.
Dan saat tiba di perempatan tersebut, mereka semua tercekat menahan nafas.
Beberapa puluh meter dari hadapan mereka, disamping teras tepat dibawah jendela sebuah rumah, tampak seseorang sedang duduk bersila.
Ditengah gerimis malam, dia agak menunduk. mulutnya mengunyah sesuatu dgn lahap.
Meski agak remang, kedua sudut bibirnya terlihat berlepotan merah.
Duduk tepat dibawah jendela asal suara tangis bayi.
Gadis di kelompok remaja masjid tadi gemetar ketakutan dan memeluk rekan-rekannya.
Bibirnya mendesis.
"SUANGGI.."
Yg lain seperti tersadar dgn desisnya dan mulai memekik takbir.
Sebagian membaca ayat kursi.
Kegaduhan yg ditimbulkan oleh mereka membuat sosok yg berada dibawah jendela tersebut terkejut bukan kepalang.
Dia mencoba memalingkan wajahnya tapi terlambat.
Beberapa anak muda tersebut terlanjur mengenalinya sbg salah satu penduduk disitu yg memang sudah lama dicurigai sbg suanggi.
Tak ada pilihan lain bagi sosok tsb selain kabur secepatnya.
Dari dalam rumah dimana sang bayi menangis juga mulai gaduh.
Sekejap berubah terang diikuti pintu yg dibuka dgn tergesa-gesa.
Sang penghuni rumah bergegas menghampiri para remaja masjid.
Tampak terlihat wajah cemas dan marah luar biasa.
"SUANGGI, KA..?"
(Suanggi, ya..?)
Dia meminta jawaban kecurigaan atas bawelnya sang anak.
"Iya, pak.." jawab mereka.
Merah membara mukanya.
"Dia..?"
Rombongan tsb mengangguk karena mereka sudah paham siapa yg dimaksud.
Kesunyian ditengah gerimis malam seketika berganti dgn kehebohan dan kemarahan warga kampung yg berbondong-bondong menuju rumah sang terciduk.
Mereka menariknya dari dalam rumahnya dan menghajarnya beramai-ramai.
Ada yang memakai tangan kosong.
Ada pula yg memakai segala jenis benda tumpul lainnya.
Anehnya, dia seperti tidak merasakan itu semua.
Jangankan berdarah maupun lebam.
Sedikitpun tak ada jerit kesakitan keluar dari mulutnya.
Tampak sangat jelas dia tidak merasakan itu semua.
Hingga munculah tetua kampung dengan sepotong bambu kuning di tangannya.
Tanpa bicara beliau mengisyaratkan yang lain utk memberi jalan.
Beliau menghantam sosok tsb memakai bambu kuning dgn sekali pukul.
Ya. Cuma sekali.
Tapi dampaknya luar biasa.
Sosok tersebut berguling-guling dan berteriak histeris.
Dia memohon agar dipukul lagi.
Tapi beliau cuma diam menatapnya. Beliau juga memberi isyarat agar yg lain juga berlaku sama. Semua menurut.
Semakin lama jeritan sang terciduk semakin kencang.
Dia memohon, meminta, hingga memaki agar dipukul lagi.
Lolong kesakitan dari mulutnya terdengar sampai ke kejauhan.
Hingga akhirnya melemah dan dia tersungkur tak sadarkan diri.
Sang tetua kampung pun mengajak warga untuk bubar kembali ke rumah masing-masing.
Saat ada yang bertanya knp cuma dipukul sekali, sang tetua menjawab,
"AKANG PUNG KUNCI DISITU.
KALO KATONG PUKUL DIA SKALI, DIA PUNG ILMU LANGSONG ILANG DENG DIA BAKAL RASA SAKI MINTA AMPON. SU TARNODEK LAI KLO SU BAGITU.
DIA LAI BAKAL KANA PAMALI SAMPE LEPRA"
(Disitulah kuncinya.
Saat kita memukulnya sekali, ilmunya seketika luntur dan dia akan merasakan sakit yang luar biasa. Saat itulah dia sudah tak berguna.
Dia juga akan terkena pamali dari situ yaitu akan dijangkiti penyakit kusta.)
Beliau melanjutkan,
"TAPI KALO KATONG PUKUL TAMBA LAI, DIA PUNG ILMU BALE BIKING DIA TAMBA KUAT. BISA BAHAYA PAR KATONG BISA ADA YANG CILAKA.
BESOK KUMPUL DIA PUNG BARANG-BARANG KAS MASO KA KOLE-KOLE LA ABIS ITU USIR DIA DARI KAMPUNG SINI.."
(Tapi jika kita kembali lagi memukulnya, maka ilmunya yg sudah hilang tadi akan kembali dan malah akan bertambah kuat.
Jelas beresiko besar krn ada yg bisa celaka.
Besok kumpulkan seluruh barangnya masukkan ke perahu dan usir dia dari kampung sini..)
Posting Komentar untuk "SUANGGI SANG PEMAKAN ORGAN BAYI PART 1"