Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SUANGGI SANG PEMAKAN ORGAN BAYI PART 4



 *SUANGGI *

- Sang Pemakan Organ Bayi -

Semua terdiam. Bermacam-macam pikiran berkecamuk di kepala mereka. Disatu sisi kecurigaan warga ternyata benar adanya. Tapi disisi lain, perkataan kedua sesepuh kampung tersebut membuat mereka juga menjadi bimbang.

Beng memecah kesunyian.
"IYO SUDA. MANGKALI DIA SONDOR KORE ZIAD PUNG ANA. TAPI SAPA YANG MO JAMIN DIA BIKING BAGITU TARUS?
SAPA TAU DIA TABULA BALE KLO PAR YANG LAENG.")
("Baiklah. Mungkin dia tidak akan mengusik anaknya Ziad. Tapi siapa yang menjamin dia akan terus begitu?
Bisa jadi dia akan bersikap sebaliknya pada yang lain.")
Beberapa suara mengguman membenarkan.
Haji Ismail menatap Beng.
"BETA DENG BAPA HAJI RAHMAT MANGARTI AKANG LAI. MAKANYA KATONG TANYA MAMA SARTI SELAIN KARIM PUNG ANA, SAPA LAGI YANG DIA SU BIKING. DIA BILANG SENG ADA. DIA AMBEL TANAH SATU TANGAN LA BILANG,
'BETA ASAL DARI TANAH. KALO SAMPE BETA PARLENTE, SKARANG SKARANG LAI BETA MATI BALE KA TANAH.'
LA DIA MAKAN TANAH TUH SAMPE ABIS."
("Aku dan pak haji Rahmat juga paham dengan hal itu. Makanya kami bertanya siapa lagi yang sudah dikerjai selain bayinya Karim. Dia berkata tak ada. Dia ambil segenggam tanah dan berkata, 'Asalku dari tanah. Jika aku bohong, maka seketika ini juga aku akan mati kembali ke tanah.'
Dan tanah itupun dilahapnya sampai habis.")
Lagi-lagi semua terdiam. Sumpah besar dari Bu Sarti mau tidak mau membuat mereka harus percaya. Itu bukan sumpah main-main bahkan bagi suanggi.
Bram, salah seorang yang usianya tak beda jauh dengan Beng, ikut bersuara.
"KALO BUKAN MAMA SARTI, BERARTI SU TAR LAENG LAI PASTI BARANG YANG MALAM ITU YANG MO BAKALAI DENG ANTUA."
("Jika bukan Bu Sarti, maka pasti sosok yang malam itu, yang hendak menyerang beliau")
"MANGKALI BAPA DONG MASI INGA DIA PUNG MODEL?"
("Mungkin bapak-bapak masih ingat ciri-cirinya?")
Haji Ismail mencoba mengingat sesuatu.
"DIA PUNG BADAN TINGGI RAMBUT SADIKI PANJANG. BABABAR LAI."
("Badannya tinggi agak gondrong. Juga berjenggot.")
Beng menyimak dengan seksama.
Dia teringat pada salah satu kampung yang beberapa kali disinggahinya saat mengepul kopra. Kampung yang suasananya juga sama dengan kampung mereka, dekat tepi pantai.
Beng ingat betul dengan salah satu kejadian ketika Beng sedang rehat di warung situ.
Seseorang berperawakan tinggi dan berjenggot, meminjam bara dirokok Beng untuk menyalakan rokoknya.
Saat selesai dan rokok Beng dikembalikan, pemilik warung memberikan isyarat secara sembunyi-sembunyi agar rokok yang dikembalikan jangan dihisap lagi.
Beng paham. Dia hanya memainkan rokok itu dijarinya. Dan dibuang saat sosok tinggi tersebut berlalu.
Pemilik warung mengangkat kakinya ke bangku dan bercerita kalau warga kampung sangat waspada dan menjaga jarak dengan sosok tersebut karena tindak tanduknya yang misterius dan mencurigakan. Dia pindah ke situ sudah sekian tahun lamanya.
Untunglah tinggalnya bukan di tengah kampung tapi di tepi gunung agak jauh dari pemukiman warga.
Jalan menuju kediaman sosok tersebut terjal berliku penuh belukar dan pepohonan liar membuat warga segan berinteraksi. Dan sosok itu hanya ke kampung untuk menjual hasil garapan kebun atau hewan-hewan liar yang berhasil dijeratnya untuk kemudian dipakai berbelanja kebutuhan sehari-harinya.
Kecurigaan warga pada sosok itu bermula sekian tahun lalu tak lama setelah kepindahannya kesitu.
Saat itu selesai berbelanja, seperti biasanya sosok tersebut langsung pulang. Tapi saat melewati sebuah rumah dimana ada musibah salah seorang penghuninya meninggal, dia berhenti dan duduk di bawah sebatang pohon tak jauh dari rumah duka dan diam-diam memperhatikan prosesi memandikan jenazah yang ditutupi kain di sekitar, tapi masih terlihat celah dibawahnya.
Dia menahan ludah dengan sangat bergairah.
Matanya memperhatikan sekitar. Hanya ada satu dua orang yang sesekali lewat tanpa menghiraukannya dan sekumpulan bocah yang sedang asyik bermain tak jauh dari situ.
Aman.
Dengan mengendap-endap, dia berjalan ke arah mengalirnya air bekas memandikan jenazah.
Disebuah kelokan dia berhenti sejenak. Melihat lagi ke sekitar, dan kemudian berjongkok meraup air tersebut dan meminumnya dengan penuh kenikmatan.
Sementara di kumpulan bocah yang bermain, salah seorang diantara mereka melihat perilakunya dari jauh dengan keheranan.
Bocah itulah kemudian menceritakan apa yang dilihat pada kedua orangtuanya.
Kabarpun menyebar.
Ada yang percaya. Ada juga yang merasa itu hanya khayalan anak-anak.
Tapi perilakunya yang misterius membuat semakin lama banyak yang akhirnya menjadi percaya.
Bahwa ada yang tak beres dengan sosok tersebut.
Desas desus semakin kencang berhembus saat beberapa bulan kemudian sekumpulan pemuda yang sedang mencari kerang di malam hari, memergokinya sedang melucuti seluruh pakaiannya di tepi pantai. Ketika dia sadar dengan keberadaan mereka, dia berdalih ingin berenang.
Ditengah malam. Tepat di bulan purnama.
Tentu saja para pemuda itu bukan kumpulan orang bodoh yang akan percaya begitu saja.
Tapi mereka juga tak bisa berbuat apa-apa karena tak ada aktifitas yang bisa membuktikan dia sedang melakukan suatu ritual durjana.
Tahun demi tahun berlalu dan kecurigaan semakin kuat. Warga bahkan beberapa kali kompak mengawasi pantai sekitar saat bulan purnama. Tapi sosok itu tak terlihat, padahal sebagian lain yang mengawasi kediamannya yakin bahwa saat itu dia tak ada di tempat.
"Beng?" teguran haji Ismail membuat Beng tersadar dari lamunan.
Semua sedang menatapnya.
Beng menghela nafas.
"AKANG PUNG MODEL SAMA DENG DI KAMPUNG SANA. ORANG-ORANG DISITU LAI SU LAMA CURIGA DENG DIA TAPI TAR ADA BUKTI. BETA YAKIN BAJINGAN INI SUDA"
("Ciri-cirinya mirip sosok di kampung sana. Warga disitu sudah lama curiga tapi tak ada bukti. Aku yakin ini ulah bajingan tersebut").
Tiba-tiba terdengar suara keributan.
Beng dan semua yang duduk disitu segera bergegas ke arah sumber kegaduhan.
Di depan pagar, tampak Bu Sarti terduduk diam memegang kepalanya yang mengeluarkan darah.
Tak jauh darinya tampak Nina sedang memaki-maki Bu Sarti dengan kalap. Disampingnya seorang gadis remaja siap menimpuk Bu Sarti dengan batu ditangannya. Lagi.
Beng sigap memegang tangan adiknya sebelum batu tersebut terlontar.
"BARENTI..! KAMONG KARJA BODO-BODO APA INI?"
("Stop..! Kekonyolan apa yang kalian lakukan?")
Nina semakin kalap.
"KARJA BODO-BODO? OSE LIA SMERLAP INI BAE-BAE. KATONG PUNG ANA MATI GARA-GARA DIA.
SIOO BENG EE. TARUS OS MO BELA CUKIMAI INI?"
("Kekonyolan? Kau lihat bajingan ini baik-baik. Bayi kita mati karena dia.
Duhai, Beng. Dan kau membela si brengsek ini?")
Beng mencoba menenangkan istrinya.
Tapi Nina makin menjadi-jadi memberontak ingin menghajar wanita tua yang didepannya.
Emosi Nina yang semakin lama makin meluap hingga histeris, akhirnya membuat dia terkulai pingsan.
Beng dibantu haji Rahmat dan beberapa orang segera membawa masuk istri dan adiknya kedalam rumah.
Sementara haji Ismail mendekati wanita tua tersebut.
"CO BETA LIA."
("Sini kuperiksa")
Bu Sarti menyodorkan kepalanya. Haji Ismail melihat sebuah luka yang tak terlalu besar tapi mengeluarkan banyak darah. Beliau bangkit dan melihat sekeliling. Akhirnya beliau menemukan apa yang dicarinya.
Pohon miyana yang berada tak jauh dari situ dipetik beberapa daunnya dan diremas.
Kemudian dibalurkan ke luka di kepala Bu Sarti.
Haji Ismail berbisik
"PULANG SUDA. KAYAKNYA BLOM PAS SKARANG PAR OSE DISINI."
("Pulanglah. Situasinya belum tepat untuk engkau berada di sini")
Wanita tua itu mengangguk dan bangkit berdiri.
Sejenak dia melirik pada warga sekitar. Terlihat jelas kegeraman dan kebencian di wajah mereka. Kecuali satu wajah yang melihatnya dengan kasihan.
Istrinya Ziad.
Wanita tua itu tersenyum diam.
Jangankan satu luka, sejuta lukapun tak akan terasa baginya selagi orang yang dikasihi masih peduli padanya.
Diapun beranjak pulang diiringi tatapan masygul haji Ismail.
Didalam rumah duka, suasana masih gaduh meski tidak seheboh tadi.
Sebagian sedang mengurus Nina yang belum sadarkan diri. Sebagian lainnya terus menenangkan gadis remaja yang masih terlihat emosi.
Beng menarik Bram pelan mengajaknya ke dapur.
Dipojok dapur keduanya mengobrol pelan.
"BRAM, BETA MO MINTA TOLONG TAPI JANJI JANG STORI PAR YANG LAENG."
("Bram, aku butuh bantuanmu tapi janji jangan katakan pada yang lain".)
Bram mengangguk.
"SABANTAR SORE BETA KALUAR DENG KOLE-KOLE PI KA KAMPUNG SANA. ALE TOLONG BATAMANG BETA DO"
("Sore ini aku akan pergi dengan perahu ke kampung sana. Tolong temani aku.")
Bram menggeleng.
"SENG BISA. BESO HARI MINGGU."
("Tidak bisa karena besok Minggu")
Beng mengangguk maklum. Hanya Bram sekeluarga yang protestan di kampung ini.
Jadi setiap ibadah Minggu pagi, mereka harus ke kampung sebelah yang mayoritasnya seiman dengan mereka.
Di samping itu mereka adalah jemaat tetap dan ibunya merupakan salah satu pengurus dari gereja tersebut.
Biasanya mereka berangkat sabtu sore untuk bermalam di rumah salah satu kerabat disana.
Sejenak Bram seperti tersadar dengan sesuatu. Wajahnya terlihat sedikit cemas.
"ALE MO BIKING APA KASANA?
BENG INGA INGA, JANG BIKING BARANG MONGO-MONGO..!"
("Apa yang mau kau lakukan disana?
Sadar Beng, jangan konyol..!")
Beng menatap Bram tajam.
"INGATANG SE SU JANJI. SENG BOLE ADA YANG TAU."
("Ingat janjimu. Tidak boleh ada yang tau")
Bram makin cemas. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
Beng membuka lemari dapur dan membungkus beberapa perbekalan.
Tekadnya sudah bulat.
Darah harus dibayar dengan darah.

Posting Komentar untuk "SUANGGI SANG PEMAKAN ORGAN BAYI PART 4"